Home / PRESS RELEASE / AJI Sebut Aksi FPI di Kantor Tempo Mengancam Kebebasan Pers

AJI Sebut Aksi FPI di Kantor Tempo Mengancam Kebebasan Pers

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengecam aksi unjuk rasa intimidatif yang digelar oleh massa Front Pembela Islam (FPI), di Kantor Tempo, Jalan Palmerah 8 Jakarta Selatan, Jumat (16/3/2018).

Ketua AJI Jakarta, Ahmad Nurhasim mengatakan, seharusnya keberatan massa FPI terhadap karikatur yang dimuat Majalah Tempo edisi 26 Februari 2018 itu disampaikan melalui hak jawab, hak koreksi, atau pengaduan ke Dewan Pers, seperti yang diatur dalam UU Pers No. 40 Tahun 1999.

“Aksi massa FPI di depan kantor media massa merupakan bentuk intimidasi, tekanan, dan mengancam kebebasan pers. Aksi ini bisa menciptakan efek ketakutan di kalangan jurnalis dan media untuk bersikap kritis dan independen. Hari ini yang didemo Tempo, bukan tidak mungkin media lain juga akan didemo lain waktu ketika memproduksi karya jurnalistik yang kritis terhadap kelompok masyarakat,” kata Nurhasim.

Kartun Tempo menggambarkan seorang laki-laki berjubah putih sedang duduk di depan seorang perempuan. FPI menafsirkan laki-laki yang “tak jadi pulang” tersebut sebagai pemimpin FPI Rizieq Shihab, yang tersangkut masalah hukum dan kini masih di Arab Saudi. Menurut AJI Jakarta, pemuatan kartun tersebut dilindungi UU Pers.

“Itu bukan perbuatan kriminal,” ujar Nurhasim.

AJI Jakarta menyatakan, aksi unjuk rasa tersebut mencerminkan FPI tidak memahami UU Pers. Pengerahan massa untuk memaksa media mengakui kesalahan karya jurnalistik adalah sikap yang anti demokrasi dan anti kebebasan pers.

“Yang berhak menghakimi apakah karya jurnalistik itu melanggar kode etik atau tidak itu Dewan Pers, bukan pihak lain,” beber Nurhasim.

Koordinator Advokasi AJI Jakarta, Erick Tanjung menambahkan, aksi-aksi unjuk rasa yang bertujuan mengintimidasi media massa seharusnya tidak dilakukan lagi oleh kelompok masyarakat di masa depan.

“Bila ada sengketa pers, pilih jalur yang diatur Undang-undang Pers. Bikin hak jawab, hak koreksi, atau adukan ke Dewan Pers. Media tersebut juga wajib memuat segera hak jawab dan koreksi yang disampaikan oleh pihak yang dirugikan,” pungkas Erick.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *